Rabu, 15 Februari 2023

MENGHADAPI KERESAHAN HATI

  • MENGHADAPI ORANG YANG TIDAK TAHU TERIMA KASIH

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” (HR. Al- Bukhari)

Ada dua poin yang sangat ampuh dan mujarab dalam menghadapi orang yang tidak tahu berterima kasih dan balas budi, yakni :

Ø  Hanya untuk Allah

Lakukan segala niat yang baik hanya untuk Allah dan mencari ridha Allah. 

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”  (QS. Al-Insan : 9)

“Katakanlah : Sesungguhnya  shalatku, ibadahku, hidupku, ddan matiku hanyalah untuk Allah swt, Tuhan semesta alam”  (QS. Al An’am : 162)

Ø  Kesabaran

Poin ini tidak mudah untuk diucapkan, namun sering kali sangat sulit dilakukan banyak orang. Tidak banyak orang yang mampu sabar dan mudah melupakan kejadian buruk yang menimpanya.  Hanya dengan menanamkan dan menguatkan hati hanya untuk Allah. Kesabaran akan muncul dengan sendirinya sebagai tameng terhadap sedih, marah dan kecewa. Perasaan gundah, gelisah pun segera hilang dari relung hatinya dan digantikan oleh perasaan senang , lebih bahagia, tenang, tentram, dan nyaman.

 

B.     MENGHADAPI WAJAH JUTEK

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri”  (HR. Muslim)

“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia”  (HR. Al-Hakim)

Ada beberapa faktor yang sangat memengaruhi aura wajah manusia, yaitu :

a.       Faktor genetis

Faktor ini dikendalikan oleh gen dan bersifat bawaan. Ada orang yang terlahir dengan wajah berseri, baby face (seperti anak-anak), sangar (menyeramkan), bahkan ada yang terlahir dengan wajah masam atau jutek.

b.      Faktor psikis, meliputi perasaan senang, sedih, kesal, marah yang sangat memengaruhi ekspresi wajah seseorang. Apabila senang hanya menunjukkan wajah yang berseri, sedangkan sebaliknya.

 

c.       Faktor lingkungan

Faktor luar yang bukan disebabkan oleh genetis ataupun psikis. Misalnya, pujian dari masyarakat atas lesung pipi yang dimiliki seseorang yang membuatnya sangat manis ketika tersenyum. Sebaliknya, ledekakan atau cemoohan dari lingkungan atas struktur gigi yang tidak rapi akan membuat seseorang tersebut selalu menyembunyikan senyumannya karena khawatir deretan giginya terlihat orang lain. Faktor ini juga dapat dipengaruhi oleh berbagai unsur sosial, seperti ingin ditakuti atau memisahkan diri.

Ada beberapa faktor penting yang dapat diterapkan :

a.       Huznuzon

Poin ini sangat penting agar seburuk apapun sikap orang lain terhadap kamu, tidak akan menyayat hati terlalu dalam sehingga tidak terlalu sakit jadinya. Berhusnuzon juga akan melindungi diri dari dosa, pertikaian, hingga dendam.

“Jauhkanlah diri kalian dari prasangka (kepada orang lain), karena prasangka buruk adalah kata-kata terdusta.”  (HR. Muslim)

“Kami akan memasang timbanagan yang adil kelak pada hari kiamat, maka (pada hari itu) tidak ada seseorang yang dizalimi barang sedikitpun. Meskipun (amalnya) hanya seberat biji sawi. Kami pasti akan memberikan balasannya. Cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.”  (QS. Al-Anbiya : 47)

b.      Menjadi yang pertama

Menjadi yang pertama sebagai penyapa. Sejutek apapun seseorang, apabila bertemu atau berpapasan dengannya, usahakan untuk menyapanya terlebih dahulu, meskipun hanya berupa senyuman.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghalangiku sejak aku memberi salam dan beliau selalu menampakkan senyum padaku.”  (HR. Bukhari)

“Tidak halal bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam, yaitu mereka bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Tetapi, orang yang paling baik adalah yang paling dahulu memberi salam.” (HR. Muslim)

Namun, apabila tak ada hujan tak ada angin mendadak si jutek memberikan salam terlebih dahulu, maka balaslah salamnya dengan salam yang lebih baik darinya, atau minimal sama baiknya.

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.”  (QS. An-Nisa : 86)

Dalam Islam pun juga mengajarkan anjuran memberi salam tidak hanya berlaku untuk sesama muslim, tapi juga untuk nonmuslim. Firman Allah bersabda:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”  (QS. Al-Mumtahanah : 8)

c.       Tenang dan Berani

Jika pada batas waktu tersebut dia tetap saja angkuh dengan wajah juteknya, ada baiknya jika mengurangi peluang bertemu dengannya. Usahakan untuk mengurangi peluang bertatap wajah dengannya agar terhindar dari berbagai prasangka buruk kepadanya. Bahwa hanya diperbolehkan mengurangi, bukan meniadakan pertemuan atau pertatapan wajah  Jangan sekali-kali memutuskan tali silaturahmi, karena surga diharamkan bagi orang yang memutuskan tali silaturahmi.

“Tidaklah masuk surga orang yang memutus tali silaturahmi.”  (HR. Al-Bukhari)

“ Tidak ada dosa yang lebih cepat siksaannya di dunia bagi pelakunya, serta diperlambat siksaannya di akhirat kelak daripada orang yang zalim dan memutus hubungan silaturahmi.”  (HR. Ash-Shahihah)

Jika hal tersebut terjadi, tetaplah berbicara dan senyum apa adanya dengan cara yang tenang dan sewajarnya, jangan berlebihan. Adapun cerita dari beberapa temannya yang salah satunya pernah dikucilkan oleh teman sekelasnya dengan aasan dia enggan bertemu dengan seorang temannya yang juteknya minta ampun dan angkuh sekali kepadanya. Apabila kalian pernanh mengalami cerita yang hampir persis yang dialami teman saya, maka jadilah sosok berani. Jangan pernah takut hanya untuk menghindari dari si jutek tersebut.

 

C.     MENGHADAPI KRITIKAN PEDAS DAN MENYAKITKAN HATI

“Tak selamanya niat dan usaha baik akan diterima dengan baik”

Itulah kalimat yang sering kita dengar, sebaik apapun niat dan usaha kita tidak selamanya akan ditanggapi dengan baik oleh orang lain atau masyarakat. Bahkan pernah menemui orang yang memberikan kritikan yang pedas dan menyakiti hati. Terlebih lagi bagi kalian yang sangat aktif di dunia karir, bisnis, dan memiliki ide dalam satu bidang yang dikuasai. Sekarang pun persaingan dalam dunia karir dan bisnis sangat ketat dan kuat, jika banyak ditemukan seringkali mendapatkan perlakuan dengan saling menjatuhkan satu sama lain yang memang dianggap saingan berat. Apabila kalian mendapat sebuah tamparan keras dari orang-orang sekitar, kalian cukup untuk membentengi diri kalian agar tidak terpancing dengan omongan mereka.

Ada beberapa poin neteng utama, yakni :

a.       Husnuzon

Setiap manusia memilki titik buta (blind spot) dimana manusia tidak dapat melihat atau menyadari kesalahannya sendiri, karena diperlukan orang lain yang membantu dalam mengingatkan kesalahan atau kekurangan, itulah sangat perlu dan pentingnya kritikus atau seorang yang bertugas memberikan kritikan. Namun sayangnya, tidak semua mereka menyampaikan kritikannya secara baik dan benar, sehingga menyakiti bukan memperbaiki orang yang dikritik. Saat mendengarkan kritikan pedas dan menyakitkan dari orang, tameng yang pertama perlu disiapkan adalah husnuzon (prasangka baik) dan banyak sekali prasangka baik lainnya sesuai dalam firman Allah dalam Al-Qur’an :

“Hai, orang-orang yang beriman. Jauhilah kebanyakan kecurigaan, karena sebagian dari prasangka buruk itu adalah dosa” (QS. Al Hujurat : 12)

Andrew Moore mengatakan bahwa segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita tampak menjadi sebuah kebenaran dan yang tidak sesuai akan memicu kemarahan.

 

b.      Tidak sekali-kali marah

Sepedas, sepahit, sesakit apapun mereka mengkritik, kuatkan jiwa untuk tidak membalaskan dengan kemarahan atau jawaban yanng sama buruknya. Sekuat-kuatnya, tahanlahuntuk tidak marah, karena justru akan merusak citra baik atau image di depan teman-teman. Alhasil, si pengkritik pun akan bersorak kesenangan melihat image kamu yang buruk di depan mereka.

“Katakanlah (kepada mereka) : Matilah kamu karena kemarahanmu itu.”  (QS. Ali Imran : 119)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu mengatakah bahwa

“Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Berilah saya nasihat’ Lalubeliau bersabda, ‘Jangan engkau marah’ Lelaki itu terus mengulang-mengulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, ‘Jangan engkau marah’.”  (HR. Bukhari)

Apabila kamu dan dianta kalian telah berhusnuzon akan selalu dimudahkan dalam menahan emosi. Setelah itu, tariklah nafas secara perlahan dan dalam-dalam, kemudian bacalah ta’awudz secara berulang untuk menghilangkan kemarahan. Hadis yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Sird mengatakan bahwa “Saya petnah duduk bersama Rasulullah dan di sana ada dua orang yang sedang saling mencaci. Salah satu dari mereka wajahnya merah dan ototnya mengeras karena marah. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘ akan ku ajarkan satu kalimat yang dapat menghilangkan marah ketika diucapkan. Seandainya dia mengucapkan ‘Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk’, maka hilanglah marahnya.”  (HR. Bukhari)

Apabila cukup waktu bacalah doa Nabi Muhammad saw., untuk memohon perlindungan dari godaan setan, sebagi berikut:

“Wa qur robbi a'uuzu bika min hamazaatisy-syayaathiin. Wa a'uuzu bika robbi ay yahdhuruun”

Artinya : Dan katakanlah, "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku." (QS. Al-Mu'minun 23:  97 -98)

c.       Tenang dan secukupnya

Setelah menahan emosi dan amarah, kita lebih tenang menjawab semua permasalahan yang telah dilalui. Otak pun lebih tenang untuk berpikir dan memberikan jawaban yang baik, bijak dan tepat untuk si pengkritik yang menyakitkan hati. Untuk menjawab si pengkritik yang tak tahu diri, kita bisa saja menjawab yang singkat, jelas, dan padat atau hanya dengan beberapak kalimat.

 

d.      Terbuka

Terbuka atas kritikan adalah poin yang sangat terpenting dan berarti bagi kalian untuk bisa mengevaluasi dan introspeksi diri. Hanya orang-orang yang sangat berjiwa besar yang dapat maju dan sukses, karena diperlukan keberanian dan tidak gengsi untuk open yourself.

“Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah dirinya yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan kepada Allah swt.”  (HR. Tirmidzi)

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal saleh) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak).”  (HR. Tirmidzi)

“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang-orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”  (HR. Tirmidzi)  

Adapun beberapa contoh kalimat untuk mengevaluasi diri yang bisa membantu kalian, sebagai berikut :

ü  Apakah sudah tepat yang saya lakukan?

ü  Sudahkan yang aku lakukan ini sesuai ajaran agama?

ü  Jika setiap masalah memiliki resiko, apakah yang kulakukan ini akan merugikan atau menguntungkan sebuah risiko dalam masalah saya?

ü  Apakah selama ini yang saya lakukan telah mengutamakan kepentingan lain atau lebih mengutamakan kepentingan pribadi?

Apabila kalian sudah mengetahui hasil evaluai diri dan menemukan beberapa kekurangan, alangkah baiknya memperbaiki diri atau melengkapi kekurangan untuk kebaikan bersama.

e.       Tetap Berlalu

Anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Jika diri kalian yakin telah benar mengambil langkah dan tidak bertentangan dengan syariat agama, maka terus lakukan (istiqomah), jangan berhenti. Jangan gentar dengan celotehan panas dari lingkungan. Yang terpenting kalian harus lakukan hanyalah membuktikannya degan akhlak baik dan hasil baik sebagai jawaban terbaik kepada si pengkritik pedas dan menyakitkan hati.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Yaa Rabb kami adalah Allah,’ kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (yang mengatakan): ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.”  (QS. Al Fushilat : 30)

Ada sebuah hadis meriwayatkan bahwa Aisya Radhiyallahu’anhu berkata “Nabi Muhammad saw., sering berdoa dengan mengatakan,’wahai Zat Yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku diatas agama-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Engkau sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu?’ Beliau menjawab ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, wahai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada diantara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hambaNya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja’.”  (HR. Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah)

Bacalah doa yang selalu Rasulullah panjatkan, semoga Allah senantiasa menjaga dan meneguhkan hati kita semua dalam menjalankan langkah-langkah mulia yang telah diikhtiarkan. Insyaa Allah.

 

D.    MENGHADAPI SI PENGUCIL

Adapun beberapa langkah penting apabila kalian mengalaminya dengan dikucilkan oleh lingkungan masyarakat dan teman-teman kalian, sebagai berikut:

1.      Husnuzon

Perbaikilah dahulu prasangka, jangan sampai akibat prsangka buruk yang tidak benar justru menjadi penyebab hati gundah gulana. Pada akhirnya akibat prasangka buruk tersebut membuat galau yang tak berujung menjadi stress, sering menangis, dan meratapi diri yang tidak sederajat dengan lingkungan sehingga semakin terkucilkan sampai mengalami gangguan kesehatan. Apapun niat seseorang kepada kita itu semua urusan dengan Allah, bukan urusan diri sendiri. Berprasangka baik kepada mereka tetap menjadi pilihan yang terbaik untuk kita.

2.      Bergabung

Dekati dan bergabunglah bersama mereka, jangan terus menyendiri, cobalah untuk masuk ke obrolan mereka, itupun jauh lebih baik daripada menyendiri dan berprasangka buruk kepada mereka. Biasanya jika ingin masuk ke dalam obroloan itu juge memerlukan keberanian diibaratkan tengah mendekati sekelompok hewan liar yang tidak kita ketahui ntah itu jinak atau liar atau bahkan malah akan memangsa kita. Oleh karena itu, teruslah berprasngka baik dan bacalah basmalah sebelumnya, lakukan semata-mata hanya untuk Allah, sehingga apapun respon mereka tidak akan pernah menyakiti diri kita sendiri. Agar tidak terlihat aneh atau canggung karena tiba-tiba saja bergabung, cobalah ucapkan beberapa kalimat saat bergabung dan masuk tiap obrolan walaupun hanya sebagai basa-basi saja tidak apa-apa. Bacalah doa berikut :

“Allahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim wa na’udzubika min syuruurihim”

Artinya : Ya Allah, kami menjadikan Engkau didepan (leher) mereka dan kami berlindung dari bahaya kejahatan mereka.”  (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Keyakinan atas pertolongan dan kebesaranNya ini, tentu juga dapat diterapkan dalam hal apa pun dalam menghadapi apa pun dan siapa pun di dunia ini.

 

 

 

 

 


3.      Terlibat

Setelah berhasil gabung dalam kelompok mereka, cobalah ikut terlibat dalam pembicaraan yang mereka bicarakan, sesekali respon dengan senyuman atau anggukan atau menggelengkan kepala. Nilailah perbincangan mereka, apabila obrolan berupa bermanfaat dan tidak melanggar aturan agama, maka teruslah ikut dalam obrolan tersebut. Namun, apabila obrolan tersebut berupa pergunjingan ata hal yang kurang bermanfaat, maka tinggalkan.

“Hai, orang-orang yang beriman. Jauhilah kebanyaka prsangaka buruk (kecurigaan) karena sebagian dari prasangaka buruk itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seseorang dianata kamu suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”  (QS. Al Hujurat : 12)

 

E.     MENGHADAPI SI HEBAT DAN “HEBAT” YANG SOMBONG 

Pernah gak bertemu dengan si paling “hebat” yang sombong? Bukan hebat, tapi “hebat” itu orang yang pura-pura menjadi orang hebat yang bisa dicirikan dengan senang bercerita tentang kehebatannya kepada orang lain, walaupun kehebatannya dipenuhi dengan kepalsuan, sebuah khayalan, atau bahkan yang ia dapatkan dengan cara licik yang merugikan orang lain. Umumnya mereka ingin sekali membangun citra sukses di depan orang lain agar disegani dan dihormati. Namun sayangnya, cara yang seperti itu salah banget. Jika kalian bertemu dengan orang yang seperti itu, cukup terapkan beberapa poin-poin utama berikut :

1.      Dengarkan Saja

Untuk apa menyombongkan diri ntah karena hebat, cukup dengarkan saja dan sekali-kali jangan terpancing untuk menimpali dengan kesombongan.

“Dikatakan kepada mereka, masuklah pintu-pintu jahanam dalam keadaan kekal di dalamnya. Maka, neraka jahanam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang—orang yang menyombongkan diri” (QS. Az Zumar : 72)

Tidak perlu menjelaskan sesuatu secara detail, karena hal tersebut membuatnya semakin menyombongkan diri dan selalu meremehkan. Jangan sekali-kali juga menceritakan sebuah keberhasilan kepadanya karena, sama dengan membalas kesombongan dengan kesombongan. Jika memang Allah menakdirkan untuk mengetahuinya, maka Dia akan membuka jalan sehingga dia mengetahui keberhasilan melalui suatu cara tanpa harus menyombongkan.

2.      Tak Tergoyahkan

Allah menciptakan makhluknya sangat beragam dalam bentuk fisik, prinsip hidup, visi misi, masa depan, bahkan tujuan hidup sesuai dengan pola pikir dari lingkungan yang membentuknya. Selama prinsip dan tujuan hidup sesuai dengan ajaran agama, maka lakukan dan teruskanlah.

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hud : 112)

3.      Hikmah

Terlepas apa niat sesungguhnya si hebat untuk menyombongkan diri, ambil saja hikamhnya. Kesuksesan jadikanlah sebagai motivator untuk lebih maju. Namun, berhati-hatilah! Jangan sekali-kali termotivasi maju karena ingin menyainginya. Majulah untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu, perbaikilah niat agar tidak terjerumus.

“Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya dan bagi setiap orang mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya sampai ppada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia inginkan atau karena wanita yang ia ingin nikahi, maka hijrahnya sampai apa yang ia niatkan.” (HR.Bukhari)

 

F.      MENGHADAPI DIA YANG HOBI MENGHINA DAN MEREMEHKAN 

 

   “Rasulullah bersabda bahwa tidak akan masuk surga jika orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi kesombongan. Lalu seorang lelaki bertanya, sesungguhnya bagaimana jika seseorang menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? . Beliau pun menjawab, sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan iu ialah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Cara jitu agar hati tidak gundah gulana, sekaligus membuatnya kapok serta membungkam mulut sombongnya, sebagai berikut :

1.      Husnudzon

Berprasangka baik adalah salah satu cara utama dan pertama ketika menghadapi mereka yang suka meremehkan. Poin ini benar-benar menyelamatkan dari kesesatan dan masalah lainnya. Sebagian orang yang tidak pandai bergaul akan begitu sulit memilih kata yang sangat tidak tepat untuk bahan candaan dan akhirnya mereka akan menggunakan kata ataupun kalimat yang tidak semestinya terucapkan walaupun niat sebenarnya hanya ingin menciptakan suasana yang akrab dan santai.

 

2.      Tidak sekali-sekali marah

Marah diibaratkan sebuah bara api yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia sehingga ia mudah emosi, dadanya pun panas membara, urat saraf pun menegang, wajahnya memerah, dan ungkapan serta tidakannya tidak masuk akal. Cara mengatasinya pun dengan menarik nafas panjang yang sangat dalam, lalu ucapkan ta’awudz, niscaya Allah menjaga dari bisikan setan yang menjerumuskan.

“Kami pun sedang duduk bersama Rasulullah dan tiba-tiba ada dua orang laki-laki saling mencaci di hadapan Nabi Muhammad saw. Seseorang tersebut masih mencaci temannya sambil marah, maka Rasulullah bersabda sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat jika ia mengucapkannya niscaya hilanglah darinya apa yang ada padanya (amarah). Seandainya ia langsung mengucapkan ta’awudz (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk), maka hilanglah amarahnya.” (HR. Bukhari)

 

3.      Diam, Pura-pura tidak mendengar  

Mendiamkan dan pura-pura tidak mendengar celothan akan jauh lebih baik daripada terlihat jelas-jelas tengah sadar mendengarkan penghinaan. Alih-alih dapat meluruskan penghinaan malah menjadikan kondisi makin runyam, saling menyakiti, dan merusak hubungan baik. Jadi, berpura-pura sedang sibuk mengobrol dengan teman lain atau sibuk mengerjakan sesuat, insya allah akan membantu mengurangi keinginan untuk marah, sakit hati, dan semakin runyamnya masalah. Tagiyya (menghindari dan menjaga diri) adalah berbohong untuk menyelamatkan diri dari kerusakan dan keterpaksaan tanpa berniat ingin mengambil keuntungan. Berbohong seperti ini diperbolehkan dalam Islam bahwa niat untuk berpura-pura tidak mendengar hinaannya tersebut dilakukan bukan ingin mencari keuntungan ataupun melakukan kejahatan. Apabila dengan niat untuk mencari keuntungan atau melakukan kejahatan, maka kepura-puraan menjadi dosa besar.

“Saya tidak pernah mendengarkan Rasulullah saw., memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam tiga hal yaitu, orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan, orang yang berbicara bohong dalam peperangan, dan ssuami yang berbicara dengan istrinya serta istrinya yang berbicara dengan suami mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga.” (HR. Muslim)

 

4.      Jangan hiraukan

Apabila mendapat hinaan dari seorang, maka jangan sekali-kali membalas atau menghiraukan ucapannya, karena justru akan semakin menyakiti hati. Malaikat pun menjauhinya, dengan digantikan oleh setan-setan yang suka menghasut. Daripada sibuk memikrkan ocehan ataupun membalas ocehan, mendingan lebih baik gunakan waktu untuk sesuatu yang lebih berguna untuk belajar dan berkarya.

“Saya tidak pernah membaca surat-surat cercaan atau hinaan yang ditujkan kepada saya, tiddak pernah membuka amplop bahkan membalasnya. Karena, jika saya sibuk mengurus hinaan tersebut malah menjadikan saya kehabisan waktu untuk berbuat baik kepada rakyatku.” (Abraham Lincoln – Mantan Presiden Amerika Serikat)

 

5.      Bicara

Apabila penghinaan atau pelecehan yang terima sangat mengganggu, berilah waktu beberapa kali pertemuan. Apabila penghinaan hanya dilakukan sekali atau dua kali, maka sebaiknya lupakan dan maafkanlah kejadian sebelumnya. Jangan mengajaknya bicara terlebih dahulu, karena akan memancing kejadian buruk lainnya. Apabila ingin memilih berbicara langsung, maka bicara dengan baik-baik tanpa amarah. Ada baiknya juga jika mengajak salah satu teman dalam perbincangan bukan dengan tujuan agar dia takut. Tapi dengan adanya pihak ketiga akan menjadi penengah apabila perbincangan memanas dan tidak ada titik temu atau solusi, usahakan seseorang yang dewasa dalam berpikir, bijaksana, bukan penggosip, amanah, dan memiliki pengaruh kuat sebagai panutan, sehingga dapat menengahi masalah dengan baik tanpa membela salah satu pihak dan tanpa meninggalkan kesan provokatif.

 

6.      Jaga jarak

Munculnya buruk sangka dan membenci dalam hati tak lain akibat bisikan dan godaan setan yang selalu ingin mengadu domba setiap manusia. Rasulullah bersabda bahwa sesungguhnya setan berjalan di tubuh anak Adam pada peredaran darah, aku khawatir setan itu melontarkan kejahatan di hati kamu sehingga timbul prasangka yang buruk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan juga bahwa setan pun berkata :

 “Demi kemuliaan-Mu ya Allah, aku akan terus-menerus menggoda hamba-hamba-Mu selagi roh mereka ada dalam badan mereka yang masih hidup.” (HR. Ahmad dan Al- Hakim)

Apabila mengenal orang yang gemar menghina, meremehkan, dan menyakiti hati, maka lebih baik jagalah jarak dengan mereka agar terlindungi dari kejahatan setan yang selalu mengusik, mengompori, dan mengadu domba hati setiap manusia. Akan tetapi, silaturahmi harus tetap terjaga hanya intensitas pertemuan yang dikurangi.

 

7.      Pembalasan

Sebaik-baiknya pembalasan terhadap orang yang hobimenghina dan merendahkan sahabat adalah prestasi dan akhlak yang baik. Selain membalasnya dengan prestasi yang baik, balaslah juga dengan akhlak atau budi pekerti yang baik kepada siapapun. Karena dengan berakhlak baik maka akan mendatangkan banyak kebaikan, diantaranya hadirnya teman yang baik, yang mencintai, dan menyayangi. Dia yang hobi meremehkan dan menghina pun akan malu dan kecewa dibuatnya, karena tidak berhasil menjatuhkan citra di depan temannya.

“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

“Kamu  tidak bisa memperoleh simpati semua orang denga hrtamu tetapi dengan wajah yang menarik simpati dan dengan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la dan Al Baihaqi)

Bahwa setiap amalan bergantung pada niatnya. Oleh karena itu, tingkatkan prestasi dan akhlak mulia hanya untuk Allah, just for Allah, dan hanya ingin meraih ridha serta pahala Allah. Jangan sekali-kali meniatkannya untuk membalas orang yang telah menyakiti, hati akan selau gundah apabila prestasi tak kunjung didapat. Hidup pun akan menjadi stres dan akhirnya akan menempuh cara-cara yang salah dalam meraih prestasi.

 

G.    MENGHADAPI SI PENGGOSIP, PEMFITNAH. DAN PENGHASUT RUMAH TANGGA 

“Sesungguhnya iblis menempatkan singgasananya di atas air, lalu menyebarkan anak buahnya ke berbagai penjuru dunia, yang paling dekat dengannya adalah yang kemampuan fitnahnya paling hebat di antara mereka. Salah seorang dari anak buahnya datang kepadanya dan melapor bahwa dirinya telah berbuat begini dan begitu, maka sang iblis pun berkata, kamu belum berbuat sesuatu. Lalu, seorang anak buah lainnya datang dan melapor bahwa dia telah berbuat begini dan begitu sehingga mampu memisahkan antara seorang suami dan istri, maka sang iblis pun menjadikan anak buahnya sebagai orang yang dekat dengannya, dan iblis berkata tindakanmu sangat bagus sekali. Lalu mendekapnya.”(HR. Muslim)

Beberapa langkah utama yang dapat ditempuh apabila menemui orang yang suka gosip, pemfitnah, dan penghasut rumah tangga, sebagai berikut :

1.      Husnudzon

Berprasangka baik akan menjadi lebih tenang dan bersyukur untuk mengurangi rasa kegalauan dan akhirnya akan menambah kebahagiaan. Menurut hasil riset dunia membuktikan bahwa perasaan bersyukur akan meningkatkan hormon endorfin di dalam tubuh. Salah satu efek dari meningkatnya hormon tersebut adalah berkurangnya rasa sakit yang akan mencegah penerusan rangsangan sakit ke otak. Itulah sebabnya mengapa bila kita banyak berbaik sangka dan bersyukur maka akan lebih sedikit merasakan sakit pada tubuh.  Menurut penelitianyang dilakukan pada partisipan yang diwajibkan bersyukur secara rutin, terjadi penurunan rasa sakit pada tubuh mereka sebesar 10% dan juga penurunan simtom fisik lainnya sebesar 16%.

Peningkatan terhadap hormon endorfin juga meningkatkan produksi hormon dopamine yaitu hormon yang dapat meningkatkan perasaan positif seperti perasaan bahagia. Menurut hasil riset, bila kita bersyukur secara rutin 5 menit setiap harinya selama 6 bulan, maka kita akan merasakan peningkatan rasa bahagia sebesar 10%. Dopamine terbukti juga dapat meningkatkan motivasi seseorang untuk melakukan sesuatu. Ada sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa orang yang dipaksa rutin bersyukur selama 11 minggu melakukan olahraga 40 menit lebih banyak dibandingkan sengan yang tidak rutin bersyukur, sehingga mereka berkesimpulan bahwa orang yang sangat bersyukur akan memiliki motivasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak bersyukur. Insya Allah dengan sendirinya akan menjadi sosok yang lebih bahagia, walaupun akan berhadapan dengan si penghasut dan pendengki.

“ Tidak ada sesuatu yang ditelan seorang hamba yang lebih afdol di sisi Allah daripada menelan atau menahan amarah yang ditelannya karena keridhaan Allah ta’ala.” (HR. Ahamd)

 

2.      Diam, Pura-pura tidak dengar

“Barangsiapa banyak diam maka dia akan selamat.” (HR. Ahmad)

Makna hadist tersebut lebih baik diam daripada berbicara sesuatu yang tidak baik dan berpotensi memancing permusuhan. Diam akan jauh lebih baik daripada menjawab pernyataan dari si penghasut dengan lisan kita., sehingga pura-pura tidak mendengar karena sibuk mengerjakan sesuatu atau tengah berbincang-bincang dengan yang lain, itulah trik cara jitu yang berjalan lancar.

 

3.      Bicara

Ajaklah bicara dengannya, apabila cara diam dan pura-pura tidak dengar tersebut tak ampuh dengannya sampai terjadi fitnah yang berlanjut dan mengganggu kehidupan. Berbicaralah dengan baik-baik tanpa emosi, namun tetap tenang, elegan, dan bijaksana. Pilihlah seorang teman yang bijaksana dan menjaga amanah sehingga amanah tersebut dijaga dengan baik. Mengenai waktu pembicaraan, carilah waktu berbicara dimana sedang tidak menahan emosi dan berilah waktu sehari, dua hari, tiga hari, atau bahkan lebih, setelah dorongan emosinya telah hilang.

Untuk mengajak si penghasut berbicara tentu memerlukan keberanian dan keahlian dalam bicara. Si penghasut malah menjadi salah paham dan semakin memperbesar hasutannya, maka cukup diamkan saja. Berdoa dan minta tolonglah kepada Allah yang tidak pernah tidur dan mengingkari janjiNya. Sesungguhnya pertolongan Allah sangat nyata bagi orang-orang yang bertakwa dan bertawakal.

“barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar , memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq : 2)

 

4.      Buktikan

Tiada ada balasan yang paling manjur untuk si penghasut, kecuali membuktikan kepada mereka semua bahwa hasutannya bualan belaka. Jagalah selalu keharmonisan dan kebersamaan. Jadilah seseorang yang terbaik dengan saling menyayangi, mencintai, dan saling mengerti. Bersabarlah dalam proses pembuktian tersebut. Waktu akan membuktikan dan menyembuhkan semuanya. Jangan sekali-kali terburu-buru membela diri atau ingin membantah hasutan seketika itu juga di depan umum, karena justru menunjukkan kalau sedang ketakutan dan khawatir rahasia terbongkar. Sebenarnya ocehan tersebut sama sekali tidak penting dan tak berarti apa-apa, tak usah ditanggapi. Hasutannya tidak mempan sama sekali membuat hati gundah gulana, biarkan dia malu dengan sendirinya atas celotehannya yang sepi dari tanggapan.

 

 

H.    MENGHADAPI SI TUKANG PAMER

“ Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi…..”(QS. Asy-Syuura : 27)

Beberapa tips penting menghadapi si tukang pamer :

1.      Sembunyikan

Jika tidak ingin melihat si tukang pamer suka memamerkan sesuatu lebih baik sembunyikan semua aktivitasnya dari News Feed sosial media atau dengan unfollow atau unfriend agar menghindari segala sesuatu yang membuat kita iri.

 

2.      Tanggapilah secara islami dan sewajarnya

Cukup mengurangi aktivitas di sosial media apalagi bertemu dengannya, namun jangan sampai silaturahmi dan tetaplah  berteman dan berkomunikasi seperti biasanya. Tanggapilah secara islami dan sebatas swajarnya saja. Pada dasarnya, orang yang suka memamerkan harta benda ialah mereka ingin mendapatkan perhatian dan pujian dari lingkungan. Kalau untuk menanggapi secara islami dengan membantunya sekadar mengingatkan kepada Allah Sang Pemberi Kekayaan. Sementara itu, menanggapi sewajarnya akan membuatnya bahagia dan menghindari dari tudingan iri.

 

I.       MENGHADAPI SI PEMUTUS SILATURAHMI DI DUNIA MAYA 

Beberapa langkah utama yang bisa dilakukan dalam menghadapi si pemutus silaturahmi :

1.      Husnudzon

Selalu berprasangka baik dalam bertindak maupun berkomentar dalam bermain sosial media. Apalagi menuduh tidak berteman di sosial media padahal yang sebenarnya terjadi telah mengganti username sosial media, akhirnya pun telah menemukan dan meminta maaf karena terlalu berprasangka buruk tidak follow di sosial media.

 

2.      Biarkan saja atau Tanyakan

Jike bertemu dengan seseorang yang suka memutuskan tali silaturahmi secara sengaja bersikap aneh, pendiam, bermuka masam, pendiam, atau tidak seperti biasanya lebih baik memilih sesuaikan kondisi. Semoga dengan cara keramahan hati pun akan kembali luluh, atau bisa malah membuat gurauan yang bisa merangkulnya kembali.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri dan daripadanyaAllah menciptakan istrinya; dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempaun yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa : 1)

 

3.      Terbuka

Dari Abu Hurairah ra., mengatakan bahwa : “Rasulullah saw., bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘ orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan’. Kemudian Rasulullah saw., bersabda, ‘orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa dosa menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul atau mengintimidasi orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan dirinya hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya. Lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim) .

Oleh karena itu, pentingnya terbuka atas kekhilafan, setelah menyadari dan mengevaluasi kesalahan, hendaknya hasil evaluasi bisa dijadikan pengingat dan pelajaran. Insya allah diam menjadi pilihan terbaik. Rasulullah saw., bersabda :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” HR. Mutafaq’alaih)

 

J.       MENGHADAPI SI JAIM

Jaim dikenal sebagai bahasa gaul yang berarti jaga image. Jaim dalam arti positif mempunyai makna selalu berperilaku tenang dalam menghadapi situasi apapun, biasanya sikap yang selalu muncul dengan seseorang yang memiliki kedudukan atau jabatan yang tinggi, sikap seseorang terhadap orang yang baru dikenal, atau terhadap rekan bisnis. Seseorang tersebut memang dasarnya tenang atau cuek dengan tujuan agar dinilai sosok yang berwibawa dan patut disegani. Cara menghadapi orang yang jaim, cuek dan sebagainya, ada beberapa poin penting sebagai berikut :

1.      Hanya untuk Allah

Setiap ingin melakukan suatu perbuatan, jangan pernah lupakan untuk meluruskan niat yaitu melakukan semua amalan hanya untuk Allah, karena yang diharapan sama sekali bukan sekedar ucapan terima kasih, tanggapa, maupun jawaban dan insya allah hanya bisa mengharapkan balasan pahala dan ridha dari Allah swt. Seburuk apapun tanggapan mereka, pahala dan ridha dariNya tetap ada, bahkan lebih banyak porsi dari biasanya karena kesabaran.

“Sesungguhya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala atas mereka dengan tanpa batas.” (QS. Az Zumar : 10)

 

2.      Husnudzon

Berprasangka baiklah bahwa seseorang yang selalu jaim tersebut banyak sekali kesibukan yang ia kerjakan, sehingga tidak ada waktu untuk membalas komentar. Ketika terlalu sibuk dan banyak sekali yang berkomentar apapun itu telah membuatnya lupa akan menanggapi. Coba sekali mengirim pesan singkat, lalu bagaimana ia merespon atau membalas chat. Jika kemungkinan besar ia hanya membalas pesan secara singkat dan seperlunya saja, jangan terlalu banyak dugaan negatif, cukup serahkan semuanya kepada Allah swt.

 

3.      No comment, just like

Jagalah selalu hati agar tidak terluka dan akhirnya berdosa. Ingat bahwa setan tidak akan pernah berhenti membujuk manusia untuk saling membenci dan menyakiti. Hindarilah godaan setan dengan cara mengurangi komentar atau bertanya pada postingan. Jika ingin menunjukkan dukungan kepadanya cukup hanya menyukai setiap postingan agar hati tidak gampang kesal dan berprasangka buruk.

“Sesungguhnya iblis telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang saleh, tetap ia berusaha mengadu domba diantara mereka.” (QS. Bukhari)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENGHADAPI KERESAHAN HATI

MENGHADAPI ORANG YANG TIDAK TAHU TERIMA KASIH “Barangsiapa yang beriman kepada Allah swt dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tet...